parenting anak Indonesia

 

Joki tugas -  Parenting di Indonesia sudah lama menghadapi masalah yang jarang dibicarakan secara jujur. Banyak orang masih menganggap pengasuhan anak adalah urusan ibu semata, sementara ayah hanya diposisikan sebagai pencari nafkah. Akibatnya, ketika seorang ayah mengambil peran aktif dalam mengasuh anak, masyarakat sering memberikan komentar sinis. Ada yang berkata, “Kok ayahnya yang ngurus anak?” Ada juga yang menyindir, “Kerjanya cuma momong anak ya?” Kalimat seperti ini terlihat sepele, tetapi dampaknya besar terhadap cara masyarakat memandang keluarga, pengasuhan, dan masa depan anak.

Padahal, kehadiran ayah dalam kehidupan anak bukan sekadar bantuan tambahan. Kehadiran ayah adalah kebutuhan dasar dalam perkembangan mental, emosional, dan sosial anak. Anak yang tumbuh dengan keterlibatan ayah cenderung memiliki rasa percaya diri lebih baik, keberanian mencoba hal baru, kemampuan menyelesaikan masalah, serta kestabilan emosi yang lebih kuat. Namun sayangnya, budaya sosial di Indonesia sering kali justru mengecilkan peran tersebut.

Masalah ini bukan hanya soal komentar nyinyir. Ini adalah persoalan budaya yang sudah mengakar selama bertahun-tahun. Sejak lama laki-laki dididik untuk percaya bahwa tugas utama mereka hanyalah bekerja dan menghasilkan uang. Sementara urusan anak dianggap pekerjaan perempuan. Bahkan ketika seorang ayah ingin lebih dekat dengan anaknya, lingkungan sering membuatnya merasa bersalah atau terlihat tidak maskulin.

Akibat pola pikir seperti ini, banyak ayah akhirnya menjaga jarak dengan anak-anaknya sendiri. Mereka hadir secara fisik, tetapi tidak hadir secara emosional. Mereka pulang malam, kelelahan, lalu hubungan dengan anak hanya sebatas bertanya sekolah atau memberi uang jajan. Anak kehilangan figur yang seharusnya menjadi tempat belajar keberanian, disiplin, rasa aman, dan cara menghadapi kehidupan.

Yang lebih menyedihkan, banyak anak Indonesia tumbuh dalam ketakutan untuk mencoba hal baru karena sejak kecil mereka tidak pernah mendapat dukungan emosional yang cukup dari ayahnya. Anak takut gagal, takut dimarahi, takut mengambil keputusan, dan takut tampil berbeda. Semua itu tidak muncul begitu saja. Itu adalah hasil dari pola pengasuhan yang terlalu bertumpu pada kontrol dan kurang pada kedekatan.

Ketika seorang ayah terlibat aktif mengasuh anak, sebenarnya ada banyak manfaat besar yang sedang dibangun.

Pertama, anak belajar rasa aman.

Anak yang sering bermain, berbicara, dan menghabiskan waktu dengan ayah memiliki fondasi emosional yang lebih stabil. Kehadiran ayah membuat anak merasa dunia tidak menakutkan. Mereka tahu ada sosok yang mendukung dan melindungi mereka. Rasa aman ini sangat penting karena menjadi dasar munculnya keberanian.

Kedua, anak belajar percaya diri.

Ayah yang aktif biasanya lebih sering mendorong anak mencoba sesuatu. Bermain sepeda, memanjat, berenang, mencoba lomba, berbicara di depan orang, atau menyelesaikan tantangan kecil sehari-hari. Dari situ anak belajar bahwa gagal bukan akhir dunia. Mereka belajar bangkit. Mereka belajar mencoba lagi.

Ketiga, anak belajar menghadapi dunia nyata.

Banyak ayah mengajarkan anak tentang risiko, konsekuensi, disiplin, dan tanggung jawab melalui pengalaman langsung. Hal ini membantu anak lebih siap menghadapi tekanan hidup ketika dewasa.

Namun ironisnya, justru ketika ayah menjalankan peran penting ini, lingkungan sering mengejek.

Ada budaya sosial yang menganggap laki-laki yang terlalu dekat dengan anak terlihat tidak sukses. Seolah-olah ayah yang hebat adalah ayah yang sibuk terus bekerja, jarang di rumah, tetapi menghasilkan uang banyak. Padahal anak tidak hanya membutuhkan uang. Anak membutuhkan hubungan.

Banyak orang tua baru sebenarnya ingin membangun pola pengasuhan yang lebih sehat. Mereka ingin berbagi tugas. Mereka ingin ayah ikut mengganti popok, menenangkan anak saat menangis, menemani belajar, memasak, atau mengantar sekolah. Tetapi tekanan sosial sering membuat semuanya menjadi sulit.

Lingkungan keluarga besar sering menjadi sumber tekanan terbesar.

Kadang nenek berkata, “Kasihan istrinya, suaminya disuruh ngurus anak.”

Tetangga berkata, “Laki-laki kok di rumah terus.”

Teman tongkrongan mengejek, “Udah jadi bapak rumah tangga ya sekarang?”

Komentar seperti ini membuat banyak ayah akhirnya mundur. Mereka takut dianggap lemah. Takut dianggap tidak sukses. Takut dipermalukan.

Padahal, mengasuh anak bukan pekerjaan rendahan.

Mengasuh anak adalah pekerjaan membentuk manusia.

Seorang ayah yang mau terlibat dalam pengasuhan sebenarnya sedang membangun generasi masa depan. Ia sedang mengajarkan empati, keberanian, komunikasi, rasa hormat, dan kestabilan mental.

Ironisnya, masyarakat sering lebih menghargai orang yang sibuk terlihat sukses dibanding orang yang benar-benar hadir untuk keluarganya.

Inilah salah satu akar masalah parenting di Indonesia.

Banyak orang tua lebih sibuk menjaga gengsi sosial dibanding membangun kualitas hubungan dengan anak.

Anak akhirnya tumbuh dalam rumah yang lengkap secara materi, tetapi kosong secara emosional.

Kita bisa melihat dampaknya di mana-mana.

Banyak remaja mudah marah.

Banyak anak kehilangan arah.

Banyak anak takut berbicara.

Banyak anak merasa tidak cukup baik.

Banyak anak mencari validasi di luar rumah karena tidak pernah merasa benar-benar diterima di dalam rumah.

Semua ini tidak bisa hanya disalahkan pada teknologi, media sosial, atau sekolah. Akar utamanya sering dimulai dari hubungan keluarga yang dingin.

Dan salah satu penyebab hubungan itu dingin adalah absennya ayah dalam proses tumbuh kembang anak.

Padahal seorang ayah memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter.

Anak laki-laki belajar bagaimana menjadi laki-laki dari ayahnya.

Anak perempuan belajar bagaimana seharusnya dihargai laki-laki dari ayahnya.

Ketika ayah hadir, anak belajar tentang ketegasan yang hangat, perlindungan tanpa kekerasan, dan kekuatan tanpa harus merendahkan orang lain.

Namun ketika ayah terlalu jauh, anak sering tumbuh dengan kekosongan emosional yang sulit dijelaskan.

Karena itu, masyarakat Indonesia sebenarnya perlu mengubah cara pandang terhadap pengasuhan.

Mengasuh anak bukan hanya tugas ibu.

Mendidik anak adalah tanggung jawab bersama.

Ayah bukan sekadar ATM keluarga.

Ayah adalah guru pertama keberanian bagi anak.

Kita juga perlu berhenti mengukur harga diri laki-laki hanya dari penghasilan.

Seorang laki-laki yang pulang kerja lalu meluangkan waktu bermain dengan anak bukan laki-laki lemah.

Justru dibutuhkan mental kuat untuk hadir sepenuhnya bagi keluarga.

Tidak semua laki-laki mampu sabar menghadapi anak tantrum.

Tidak semua laki-laki mau belajar mengganti popok.

Tidak semua laki-laki rela mengurangi ego demi membangun hubungan sehat dengan anak.

Karena itu, ayah yang terlibat aktif sebenarnya pantas dihargai.

Selain itu, kita juga harus memahami bahwa perkembangan zaman sudah berubah.

Dunia hari ini membutuhkan anak-anak yang mampu berpikir kritis, percaya diri, kreatif, dan punya kecerdasan emosional tinggi.

Skill seperti ini tidak lahir dari pola asuh penuh ketakutan.

Skill seperti ini lahir dari hubungan yang sehat.

Anak yang dekat dengan ayah biasanya lebih berani menyampaikan pendapat.

Mereka lebih terbiasa berdiskusi.

Lebih berani mencoba.

Lebih tahan menghadapi tekanan.

Karena mereka tumbuh dengan rasa aman.

Sebaliknya, anak yang tumbuh dengan pola asuh otoriter dan minim kedekatan emosional sering kali hanya patuh di depan, tetapi rapuh di dalam.

Mereka takut salah.

Takut gagal.

Takut mengecewakan orang tua.

Dan ketika dewasa, banyak dari mereka kesulitan mengambil keputusan sendiri.

Inilah kenapa keterlibatan ayah sangat penting.

Bukan untuk menggantikan ibu.

Tetapi untuk melengkapi.

Ibu dan ayah membawa energi pengasuhan yang berbeda.

Anak membutuhkan keduanya.

Sayangnya, budaya nyinyir sering membuat keluarga takut menjalani pola pengasuhan yang sehat.

Padahal komentar orang lain tidak akan ikut bertanggung jawab atas masa depan anak.

Tetangga yang mengejek tidak akan hadir ketika anak mengalami krisis mental.

Orang yang meremehkan ayah momong anak tidak akan membantu ketika hubungan keluarga rusak.

Karena itu, orang tua harus berani menentukan nilai keluarganya sendiri.

Kalau seorang ayah punya waktu luang lalu memilih bermain dengan anak, itu bukan sesuatu yang memalukan.

Itu adalah investasi jangka panjang.

Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat hari ini.

Tetapi 10 atau 20 tahun lagi, dampaknya akan sangat terasa.

Anak akan lebih terbuka.

Lebih percaya diri.

Lebih kuat menghadapi tekanan hidup.

Lebih mampu membangun hubungan sehat.

Dan lebih siap menghadapi dunia.

Kita juga perlu berhenti memuji pola hidup yang membuat orang tua terlalu sibuk.

Banyak orang bangga mengatakan tidak punya waktu untuk keluarga karena terlalu fokus bekerja.

Padahal anak tidak akan mengingat berapa banyak lembur orang tuanya.

Tetapi mereka akan mengingat apakah ayahnya pernah bermain bersama mereka.

Apakah ayahnya mendengarkan cerita mereka.

Apakah ayahnya hadir saat mereka takut.

Apakah ayahnya memeluk mereka ketika gagal.

Memori seperti itulah yang membentuk manusia.

Dan semua itu tidak bisa digantikan uang.

Indonesia membutuhkan perubahan cara pandang tentang keluarga.

Kita harus mulai menghormati ayah yang hadir dalam pengasuhan.

Bukan mengejeknya.

Kita harus berhenti menganggap pengasuhan sebagai pekerjaan rendah.

Karena kualitas bangsa sebenarnya dibentuk dari kualitas rumah tangga.

Anak-anak yang sehat mentalnya lahir dari hubungan keluarga yang sehat.

Dan keluarga sehat membutuhkan keterlibatan ayah.

Mungkin perubahan ini tidak mudah.

Budaya lama sudah terlalu kuat.

Tetapi setiap perubahan besar selalu dimulai dari keputusan kecil.

Dari seorang ayah yang memilih duduk bermain bersama anaknya.

Dari seorang suami yang membantu istrinya tanpa malu.

Dari keluarga yang berani tidak peduli pada komentar lingkungan.

Karena pada akhirnya, anak tidak membutuhkan ayah yang terlihat hebat di mata tetangga.

Anak membutuhkan ayah yang benar-benar hadir di hidup mereka.

Dan kelak ketika anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, percaya diri, penuh empati, serta berani menghadapi dunia, saat itulah semua waktu sederhana yang dulu dianggap “cuma momong anak” akan terbukti sebagai salah satu pekerjaan paling penting dalam kehidupan.

Kita harus menghancurkan persepsi di masyarakat kalau sososk ayah yang mengasuh anak ketika waktu luang itu buruk menjadi baik. Kalau ayah dipersepsi buruk seperti itu yang ada akan membuat sosok ayah kecewa dan tidak mau mengasuh anak lagi dan ia akan memilih kerja saja berhari-hari tanpa mau ketemu sosok anak lagi. Kondisi seperti ini jika diteruskan tentu akan sangat bahaya kedepanya.