Joki tugas - DI Indonesia entah kenapa lulusan dari fakultas teknik dan bidang yang menggeluti eksakta kerap diistimewakan dalam permintaan tenaga kerja. Ada streotipe prodi ini susah lulus dan dan tugas-tugasnya berat sehingga ada persepsi mahasiswa lulusan fakultas teknik biasanya rajin, tahan banting, problem solver, dan telaten. Bandingkan dengan mahasiswa dari rumpun SOSHUM yang tugas kuliahnya dikenal mudah sehingga ada persepsi lulusan dari rumpun soshum biasanya di duniakerja kurang tahan banting, kurang rajin, kurang problem solver. Ini seperti fenomena yang menarik di Indonesia.
Fenomena ini tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari kombinasi faktor historis, ekonomi, serta budaya pendidikan yang berkembang di Indonesia. Sejak masa industrialisasi awal hingga era pembangunan infrastruktur yang masif beberapa dekade terakhir, kebutuhan tenaga kerja dengan kemampuan teknis seperti insinyur, teknisi, dan analis sistem terus meningkat. Akibatnya, lulusan fakultas teknik menjadi sangat dicari, dan secara tidak langsung memperoleh “status khusus” di mata industri.
Di sisi lain, persepsi tentang “kesulitan” jurusan juga memainkan peran penting. Program studi di fakultas teknik seperti teknik sipil, teknik mesin, teknik elektro, hingga teknik informatika memang dikenal memiliki beban akademik yang tinggi. Mahasiswa dituntut memahami konsep matematika, fisika, hingga logika komputasi yang kompleks. Tidak jarang, tingkat kelulusan tepat waktu di beberapa jurusan teknik berada di bawah rata-rata nasional. Berdasarkan data dari beberapa perguruan tinggi negeri besar, rata-rata masa studi mahasiswa teknik bisa mencapai 4,5 hingga 5 tahun, lebih lama dibandingkan beberapa program studi sosial-humaniora yang rata-rata 3,5 hingga 4 tahun.
Dari sini muncul stereotipe: jika seseorang berhasil lulus dari jurusan yang dianggap “sulit”, maka ia pasti memiliki ketahanan mental, kemampuan berpikir logis, serta etos kerja yang tinggi. Industri kemudian menginternalisasi asumsi ini sebagai indikator kualitas kandidat. Padahal, tentu saja, realitasnya tidak selalu sesederhana itu.
Jika kita melihat data pasar kerja, memang ada kecenderungan bahwa lulusan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) memiliki tingkat penyerapan kerja yang relatif lebih tinggi. Misalnya, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan teknik cenderung lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional lulusan perguruan tinggi. Selain itu, sektor industri seperti manufaktur, konstruksi, energi, dan teknologi digital secara konsisten membutuhkan tenaga kerja dengan latar belakang teknik.
Namun, hal ini tidak berarti lulusan sosial-humaniora (SOSHUM) kurang dibutuhkan. Justru dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan terhadap skill seperti komunikasi, analisis sosial, manajemen, kreativitas, dan pemahaman budaya semakin meningkat. Industri kreatif, pemasaran digital, human resources, kebijakan publik, hingga sektor pendidikan sangat bergantung pada lulusan SOSHUM.
Masalah utamanya bukan pada “lebih penting” atau “kurang penting”, melainkan pada bagaimana persepsi terbentuk dan diperkuat. Dunia kerja di Indonesia masih cenderung menilai kandidat berdasarkan latar belakang jurusan secara generalisasi, bukan pada kompetensi spesifik yang dimiliki individu. Hal ini terlihat dari banyaknya lowongan pekerjaan yang mensyaratkan “minimal lulusan teknik” bahkan untuk posisi yang sebenarnya tidak terlalu teknis, seperti manajemen operasional atau analis bisnis.
Fenomena ini juga diperparah oleh sistem pendidikan yang masih cukup kaku. Mahasiswa teknik seringkali dilatih untuk berpikir sistematis, menyelesaikan masalah dengan pendekatan terstruktur, dan bekerja dalam tekanan deadline yang ketat. Sementara itu, mahasiswa SOSHUM lebih banyak diarahkan pada diskusi, analisis kritis, serta pemahaman konteks sosial. Kedua pendekatan ini sebenarnya sama-sama penting, tetapi karena output-nya berbeda, industri cenderung lebih mudah mengukur kemampuan teknis dibandingkan kemampuan abstrak seperti komunikasi atau empati.
Selain itu, ada faktor “visibility” atau keterlihatan hasil kerja. Hasil kerja lulusan teknik seringkali bersifat konkret: bangunan berdiri, sistem berjalan, program berfungsi. Sementara itu, hasil kerja lulusan SOSHUM seringkali tidak langsung terlihat atau bersifat jangka panjang, seperti peningkatan brand awareness, perubahan perilaku konsumen, atau perbaikan budaya organisasi. Karena lebih sulit diukur, kontribusi ini sering kali kurang dihargai secara proporsional.
Dari sisi gaji pun terdapat perbedaan yang cukup signifikan, terutama di awal karier. Survei dari berbagai platform pencarian kerja menunjukkan bahwa fresh graduate teknik, khususnya di bidang teknologi informasi, bisa mendapatkan gaji awal 10–30% lebih tinggi dibandingkan rata-rata lulusan SOSHUM. Hal ini semakin memperkuat persepsi bahwa jurusan teknik “lebih menjanjikan”.
Namun, jika dilihat dalam jangka panjang, perbedaan ini tidak selalu konsisten. Banyak lulusan SOSHUM yang berhasil mencapai posisi strategis di perusahaan seperti manajer, direktur, atau bahkan CEO—karena kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan pemahaman pasar yang kuat. Dalam banyak kasus, skill ini justru menjadi pembeda utama di level menengah hingga senior.
Menariknya, tren global justru mulai mengarah pada integrasi antara kemampuan teknis dan non-teknis. Konsep seperti T-shaped skills di mana seseorang memiliki keahlian mendalam di satu bidang (misalnya teknik) dan pemahaman luas di bidang lain (seperti bisnis atau komunikasi) semakin menjadi standar. Perusahaan tidak lagi hanya mencari “engineer” atau “social scientist”, tetapi individu yang mampu menjembatani keduanya.
Di Indonesia sendiri, perubahan ini mulai terlihat, meskipun belum merata. Banyak perusahaan startup, misalnya, mulai menghargai latar belakang multidisiplin. Seorang lulusan komunikasi yang memahami data analytics, atau lulusan teknik yang memiliki kemampuan public speaking yang baik, seringkali memiliki nilai tambah yang signifikan.
Sayangnya, stereotipe lama masih cukup kuat. Mahasiswa SOSHUM seringkali harus “bekerja dua kali lebih keras” untuk membuktikan bahwa mereka juga kompeten, sementara mahasiswa teknik cenderung mendapatkan “benefit of the doubt” sejak awal. Hal ini bisa berdampak pada kepercayaan diri, pilihan karier, hingga dinamika di tempat kerja.
Lebih jauh lagi, persepsi ini juga mempengaruhi pilihan jurusan calon mahasiswa. Banyak siswa SMA yang memilih jurusan teknik bukan karena minat, tetapi karena dianggap memiliki prospek kerja yang lebih baik. Akibatnya, tidak sedikit yang merasa “salah jurusan” di tengah jalan, yang pada akhirnya berdampak pada performa akademik dan kepuasan karier.
Padahal, jika kita melihat kebutuhan masa depan terutama di era ekonomi digital dan society 5.0 kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci. Tantangan seperti perubahan iklim, transformasi digital, hingga ketimpangan sosial tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis semata. Dibutuhkan pemahaman sosial, kebijakan, serta kemampuan komunikasi yang kuat.
Oleh karena itu, penting untuk mulai menggeser cara pandang dari “jurusan mana yang lebih unggul” menjadi “skill apa yang relevan dan dibutuhkan”. Industri juga perlu lebih terbuka dalam menilai kandidat berdasarkan kompetensi, bukan sekadar label jurusan. Di sisi lain, institusi pendidikan perlu mendorong kurikulum yang lebih adaptif dan kolaboratif, sehingga mahasiswa dari berbagai latar belakang dapat saling melengkapi.
Mahasiswa teknik tidak selalu otomatis lebih rajin atau lebih tahan banting, dan mahasiswa SOSHUM tidak selalu kurang kompeten. Keduanya memiliki kekuatan dan tantangan masing-masing. Yang membedakan pada akhirnya adalah bagaimana individu tersebut mengembangkan dirinya baik melalui pengalaman, keterampilan tambahan, maupun kemampuan beradaptasi.
Fenomena “pengistimewaan” lulusan teknik di Indonesia memang nyata, tetapi bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya soft skills, kreativitas, dan pemikiran kritis, ada peluang besar untuk menciptakan ekosistem kerja yang lebih adil dan inklusif. Pada akhirnya, dunia kerja yang sehat bukanlah yang mengunggulkan satu kelompok di atas yang lain, melainkan yang mampu memaksimalkan potensi setiap individu, terlepas dari latar belakang akademiknya.
