Krisis Ayah Dalam Parenting Indonesia

Joki tugas -  Jika ingin mahasiswa di Indonesia memiliki kualitas kognitif, daya analisis, dan etos belajar yang setara dengan mahasiswa di Jerman dan Jepang, maka kita harus berani mengakui akar masalahnya: kualitas pendidikan tinggi tidak dimulai di kampus. Ia dimulai di rumah, bahkan sejak anak lahir. Dan salah satu faktor yang selama ini paling diabaikan dalam budaya parenting kita adalah peran ayah.

Selama puluhan tahun, narasi “ayah bekerja, ibu mengasuh” dianggap sebagai sesuatu yang normal, bahkan ideal. Ayah diposisikan sebagai mesin ekonomi keluarga, sementara ibu diposisikan sebagai pusat pengasuhan. Narasi ini begitu kuat hingga kita jarang mempertanyakan dampaknya terhadap perkembangan psikologis, kognitif, dan karakter anak. Kita menganggap cukup jika ayah memenuhi kebutuhan finansial, tanpa memikirkan kebutuhan emosional dan intelektual anak terhadap figur ayah.

Padahal, berbagai riset global menunjukkan bahwa keterlibatan ayah sejak dini memiliki dampak yang sangat nyata. Anak yang ayahnya aktif terlibat dalam pengasuhan memiliki kemungkinan hingga 43% lebih tinggi untuk mendapatkan nilai akademik di atas rata-rata. Studi perkembangan anak juga menunjukkan bahwa anak dengan keterlibatan ayah tinggi memiliki skor kemampuan bahasa 2–3 bulan lebih maju pada usia balita dibanding anak yang minim interaksi dengan ayah. Dalam jangka panjang, keterlibatan ayah berkorelasi dengan peningkatan kemampuan problem solving, regulasi emosi, dan kepercayaan diri.

Masalahnya, dalam realitas sosial kita, jutaan ayah bekerja jauh dari rumah. Fenomena merantau adalah kenyataan ekonomi. Data sensus menunjukkan jutaan pekerja laki-laki Indonesia bekerja di luar kota atau luar pulau. Banyak keluarga menjalani pola hidup “long distance family”. Pertemuan ayah dan anak bisa terjadi hanya beberapa bulan sekali, bahkan ada yang hanya bertemu 2–3 kali setahun.

Bayangkan dampaknya dari sudut pandang anak. Pada usia 0–6 tahun, otak anak berkembang sangat cepat. Sekitar 90% perkembangan otak terjadi sebelum usia 5 tahun. Ini berarti periode emas perkembangan kognitif terjadi ketika banyak ayah justru paling sibuk membangun karier dan sering tidak berada di rumah.

Anak belajar bukan hanya dari kata-kata, tetapi dari observasi. Mereka meniru cara ayah berbicara, menyelesaikan masalah, mengatur emosi, membaca buku, berdiskusi, hingga memperlakukan orang lain. Jika ayah tidak hadir secara konsisten, anak kehilangan salah satu sumber pembelajaran sosial terpenting dalam hidupnya.

Kita sering heran mengapa banyak anak sulit disiplin, sulit fokus, cepat menyerah, atau kurang percaya diri. Kita menyalahkan sekolah, kurikulum, gadget, atau generasi zaman sekarang. Padahal, kita jarang melihat bahwa banyak anak tumbuh tanpa interaksi intens dengan figur ayah yang bisa menjadi contoh ketegasan, konsistensi, dan keberanian menghadapi tantangan.

Budaya parenting yang timpang ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan nasihat moral. Dibutuhkan perubahan sistemik. Dibutuhkan revolusi cara pandang.

Pertama, kita harus mengubah definisi “ayah sukses”. Selama ini, ukuran kesuksesan ayah hampir sepenuhnya ekonomi: gaji besar, rumah, kendaraan, tabungan. Jarang sekali masyarakat menilai keberhasilan ayah dari kedekatan dengan anaknya. Jarang ada penghargaan sosial bagi ayah yang pulang lebih cepat untuk menemani anak belajar, membaca cerita sebelum tidur, atau mengantar anak ke sekolah.

Padahal, survei kesejahteraan keluarga di berbagai negara menunjukkan bahwa anak lebih mengingat waktu bersama orang tua dibandingkan hadiah materi. Dalam sebuah survei internasional, lebih dari 70% remaja mengatakan momen paling berkesan bersama ayah adalah aktivitas sederhana: bermain, berbincang, atau belajar bersama.

Bayangkan jika standar sosial berubah: ayah yang terlibat aktif dalam pengasuhan dianggap lebih sukses daripada ayah yang hanya sukses secara finansial tetapi asing bagi anaknya. Perubahan standar sosial ini akan menggeser prioritas banyak keluarga.

Kedua, perusahaan dan dunia kerja harus menjadi bagian dari solusi. Tidak realistis menuntut ayah hadir jika sistem kerja tidak memungkinkan. Rata-rata pekerja formal di kota besar bekerja 45–50 jam per minggu. Belum termasuk waktu perjalanan yang bisa mencapai 2–3 jam per hari. Artinya, waktu efektif ayah di rumah seringkali hanya tersisa 2–3 jam dalam kondisi lelah.

Pemerintah dapat mendorong kebijakan ramah keluarga: jam kerja fleksibel, cuti ayah yang layak, opsi kerja jarak jauh, serta insentif bagi perusahaan yang mendukung keterlibatan orang tua. Negara-negara maju telah membuktikan bahwa kebijakan ramah keluarga meningkatkan produktivitas jangka panjang karena karyawan lebih sejahtera secara mental.

Ketiga, perlu ada gerakan edukasi nasional tentang father involvement. Selama ini, edukasi parenting hampir selalu menyasar ibu. Seminar, kelas ibu hamil, komunitas parenting, konten media sosial — mayoritas berfokus pada ibu. Ayah jarang menjadi target utama.

Padahal, penelitian menunjukkan bahwa ayah yang mendapatkan edukasi parenting sebelum anak lahir memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk terlibat aktif dalam pengasuhan. Pengetahuan membangun kepercayaan diri. Banyak ayah tidak terlibat bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak tahu harus melakukan apa.

Bayangkan jika setiap calon ayah mendapatkan edukasi tentang pentingnya keterlibatan mereka: bagaimana bermain dengan bayi, bagaimana membangun komunikasi dengan balita, bagaimana menjadi role model belajar, bagaimana mendampingi anak menghadapi kegagalan. Pengetahuan ini bukan bawaan lahir; ia perlu diajarkan.

Keempat, kita perlu mengubah cara kita memandang interaksi ayah-anak. Banyak ayah merasa pengasuhan adalah wilayah ibu karena mereka tidak percaya diri atau tidak tahu harus melakukan apa. Akhirnya, mereka menjauh secara alami.

Padahal, interaksi ayah tidak harus sempurna. Bermain lego, memperbaiki barang rusak, membaca buku bersama, berdiskusi tentang hal sederhana, bahkan sekadar berjalan sore — semua itu adalah momen pembelajaran yang sangat berharga. Anak belajar logika, kreativitas, komunikasi, dan rasa aman dari aktivitas sederhana ini.

Kelima, penting menanamkan kesadaran bahwa kehadiran ayah bukan sekadar waktu kuantitas, tetapi kualitas. Banyak ayah yang sebenarnya tinggal serumah, tetapi tetap tidak hadir secara emosional karena sibuk dengan ponsel, televisi, atau kelelahan. Revolusi parenting bukan hanya tentang ayah pulang lebih sering, tetapi benar-benar hadir ketika di rumah.

Kehadiran emosional berarti mendengarkan cerita anak, menanyakan pendapat mereka, menghargai rasa ingin tahu, dan memberi ruang diskusi. Anak yang terbiasa berdiskusi dengan ayah akan tumbuh dengan kemampuan berpikir kritis yang lebih kuat. Mereka terbiasa mengemukakan pendapat, mempertanyakan, dan mencari solusi.

Inilah fondasi mahasiswa unggul.

Mahasiswa hebat bukan tiba-tiba muncul saat kuliah. Mereka adalah anak-anak yang sejak kecil terbiasa membaca, bertanya, berdiskusi, dan mencoba hal baru tanpa takut salah. Budaya ini tidak bisa dibangun hanya oleh sekolah. Rumah adalah sekolah pertama dan terlama.

Keenam, media memiliki peran penting dalam membentuk narasi baru tentang ayah. Film, sinetron, iklan, dan konten digital masih sering menggambarkan ayah sebagai figur jauh, kaku, atau hanya pencari nafkah. Kita membutuhkan lebih banyak representasi ayah yang hangat, terlibat, dan aktif dalam pengasuhan.

Ketujuh, kita perlu mengakui bahwa perubahan ini tidak mudah. Banyak ayah merantau karena kebutuhan ekonomi nyata. Namun teknologi telah membuka peluang baru. Jika ayah melakukan panggilan video rutin 15–20 menit setiap hari, dalam setahun itu setara lebih dari 120 jam interaksi tambahan dengan anak. Konsistensi kecil bisa menghasilkan dampak besar.

Kedelapan, pendidikan pranikah perlu memasukkan kurikulum parenting modern. Banyak pasangan menikah tanpa pemahaman realistis tentang pengasuhan anak. Mereka membawa pola lama tanpa pernah mengevaluasi apakah pola tersebut masih relevan. Jika calon ayah sudah memahami peran pentingnya sebelum anak lahir, peluang keterlibatan akan jauh lebih besar.

Kesembilan, kita harus berhenti menormalisasi kalimat “ayah kan sibuk”. Kalimat ini tampak sederhana, tetapi dampaknya besar. Ia memberi legitimasi sosial bahwa ketidakhadiran ayah adalah sesuatu yang wajar. Padahal, ketidakhadiran emosional adalah kehilangan besar bagi perkembangan anak.

Kesepuluh, perubahan harus dimulai dari kesadaran individu. Pemerintah bisa membuat kebijakan, perusahaan bisa membuat aturan, media bisa membuat narasi, tetapi pada akhirnya setiap ayah harus memutuskan untuk hadir. Tidak ada kebijakan yang bisa menggantikan keputusan personal untuk pulang lebih awal, menutup laptop, dan duduk bersama anak.

Jika kita serius ingin meningkatkan kualitas mahasiswa di masa depan, maka kita harus serius membangun kualitas keluarga hari ini. Investasi terbesar bangsa bukan hanya infrastruktur, teknologi, atau kurikulum, tetapi hubungan antara orang tua dan anak.

Revolusi parenting bukan agenda kecil. Ia adalah proyek peradaban.

Bayangkan generasi yang tumbuh dengan ayah yang hadir: generasi yang percaya diri, mampu berpikir kritis, tahan terhadap tekanan, berani mencoba, dan tidak takut gagal. Generasi seperti inilah yang akan memenuhi kampus, laboratorium, startup, dan pusat riset di masa depan.

Revolusi parenting ini sayangnya harus melibatkan banyak pihak terutama tempat bekerja ayah yang harus dilobi atau ditekan pemerintah agar tidak menetapkan kebihakan kerja yang over work cukup kerja 5 jam sehari namun dengan gaji yang cukup sehingga ayah punya banyak waktu ke anak. 

Akar masalahnya ayah tidak mau terlibat dalam parenting anak bukan karena benci terhadap anaknya, tapi lebih karena keterpaksaan biaya hidup yang makin tinggi sehingga ia terpaksa merelakan dirinya mengambil jam kerja panjang di pabrik hanya untuk memenuhi kebutuhan seharinya.

Perubahan mungkin tidak terlihat dalam lima tahun. Tetapi dalam dua puluh tahun, dampaknya akan terasa di mana-mana: di ruang kuliah, di tempat kerja, di ruang inovasi, dan di panggung dunia.

Semua itu bisa dimulai dari hal sederhana: seorang ayah yang memilih untuk hadir.